Fiksi
Segera Terbit
Fiksi
Segera Terbit
Dialektika aktivisme akar rumput
Cari Publish Jaya Dialektika aktivisme akar rumput di Google
ISBN Cetak
Dalam Proses
Dalam Proses
eISBN / ISBN Digital
—
Belum Diajukan
Buku CetakRp67.000
Sinopsis
Dialektika Aktivisme Akar Rumput karya Edy Suparjan merupakan novel berbasis kisah nyata yang mengangkat perjalanan seorang anak petani dari Desa Pela dalam memahami kehidupan masyarakat, ketidakadilan, aktivisme, serta dinamika kepemimpinan di tingkat desa.
Kisah bermula dari kehidupan Edy sebagai anak petani yang terbiasa mengamati berbagai persoalan di sekitarnya. Pendidikan kemudian membuka pandangannya terhadap dunia yang lebih luas dan menumbuhkan pertanyaan tentang mengapa masyarakat desa yang bekerja keras justru sering kali kurang didengar. Setelah kembali dari kota dengan membawa pengetahuan dan idealisme, Edy mulai terlibat dalam aktivitas kepemudaan melalui HIMAPPEL dan perlahan menemukan jalan perjuangannya sebagai aktivis akar rumput.
Perjuangan tersebut kemudian bersentuhan langsung dengan berbagai persoalan masyarakat, mulai dari persoalan PRONA, akses jalan, pengawasan pemerintahan desa melalui BPD, hingga persoalan transparansi dan pengambilan keputusan. Ketika dipercaya menjadi bagian dari BPD, Edy menghadapi tantangan baru karena aktivisme tidak lagi hanya tentang menyampaikan kritik, tetapi juga tentang menjalankan tanggung jawab, membangun komunikasi, menjaga keadilan, serta berani mengambil keputusan yang berpihak kepada kepentingan masyarakat.
Pandemi COVID-19 menjadi salah satu ujian penting dalam perjalanan tersebut, terutama dalam persoalan penyaluran BLT-DD. Di tengah tekanan dan berbagai kepentingan, Edy belajar bahwa keberpihakan kepada masyarakat membutuhkan ketegasan, kejujuran, dan keberanian untuk menolak praktik yang tidak adil.
Perjalanan berlanjut pada persoalan pembangunan sumber daya manusia dan pengelolaan BUMDes Ntuda Ncoa yang menghadapi berbagai hambatan. Dari berbagai pengalaman tersebut, Edy semakin memahami bahwa perubahan desa tidak dapat dibangun hanya dengan keberanian mengkritik, tetapi membutuhkan kerja bersama, keterbukaan, kesabaran, dan kesediaan untuk terus memperbaiki keadaan.
Pada akhirnya, buku ini membawa pembaca pada sebuah refleksi penting tentang “membuang ego sang aktivis.” Membuang ego bukan berarti kehilangan keberanian untuk memperjuangkan kebenaran, melainkan belajar untuk tidak menjadikan diri sendiri sebagai pusat perjuangan. Aktivisme yang matang adalah keberanian untuk bekerja, mendengar, mengawal, mengoreksi, dan memberi ruang kepada masyarakat untuk ikut menentukan masa depannya.
Kisah bermula dari kehidupan Edy sebagai anak petani yang terbiasa mengamati berbagai persoalan di sekitarnya. Pendidikan kemudian membuka pandangannya terhadap dunia yang lebih luas dan menumbuhkan pertanyaan tentang mengapa masyarakat desa yang bekerja keras justru sering kali kurang didengar. Setelah kembali dari kota dengan membawa pengetahuan dan idealisme, Edy mulai terlibat dalam aktivitas kepemudaan melalui HIMAPPEL dan perlahan menemukan jalan perjuangannya sebagai aktivis akar rumput.
Perjuangan tersebut kemudian bersentuhan langsung dengan berbagai persoalan masyarakat, mulai dari persoalan PRONA, akses jalan, pengawasan pemerintahan desa melalui BPD, hingga persoalan transparansi dan pengambilan keputusan. Ketika dipercaya menjadi bagian dari BPD, Edy menghadapi tantangan baru karena aktivisme tidak lagi hanya tentang menyampaikan kritik, tetapi juga tentang menjalankan tanggung jawab, membangun komunikasi, menjaga keadilan, serta berani mengambil keputusan yang berpihak kepada kepentingan masyarakat.
Pandemi COVID-19 menjadi salah satu ujian penting dalam perjalanan tersebut, terutama dalam persoalan penyaluran BLT-DD. Di tengah tekanan dan berbagai kepentingan, Edy belajar bahwa keberpihakan kepada masyarakat membutuhkan ketegasan, kejujuran, dan keberanian untuk menolak praktik yang tidak adil.
Perjalanan berlanjut pada persoalan pembangunan sumber daya manusia dan pengelolaan BUMDes Ntuda Ncoa yang menghadapi berbagai hambatan. Dari berbagai pengalaman tersebut, Edy semakin memahami bahwa perubahan desa tidak dapat dibangun hanya dengan keberanian mengkritik, tetapi membutuhkan kerja bersama, keterbukaan, kesabaran, dan kesediaan untuk terus memperbaiki keadaan.
Pada akhirnya, buku ini membawa pembaca pada sebuah refleksi penting tentang “membuang ego sang aktivis.” Membuang ego bukan berarti kehilangan keberanian untuk memperjuangkan kebenaran, melainkan belajar untuk tidak menjadikan diri sendiri sebagai pusat perjuangan. Aktivisme yang matang adalah keberanian untuk bekerja, mendengar, mengawal, mengoreksi, dan memberi ruang kepada masyarakat untuk ikut menentukan masa depannya.
Highlight Buku
* Kehidupan anak petani sebagai titik awal tumbuhnya kepekaan terhadap persoalan masyarakat.
* Pendidikan sebagai jalan membuka wawasan dan membangun kesadaran kritis.
* Peran pemuda melalui HIMAPPEL dalam menumbuhkan semangat berdiskusi dan bergerak.
* Aktivisme akar rumput yang bersentuhan langsung dengan persoalan kehidupan masyarakat.
* Persoalan PRONA dan pentingnya keberanian masyarakat dalam memperjuangkan haknya.
* Perjuangan membuka akses jalan sebagai gambaran persoalan sederhana yang memiliki dampak besar bagi warga.
* Peran BPD dalam mengawasi pemerintahan dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.
* Pandemi dan BLT-DD sebagai ujian terhadap kejujuran, keadilan, dan keberpihakan kepada masyarakat.
* Transparansi dan akuntabilitas dalam penyelenggaraan pemerintahan desa.
* Pentingnya meritokrasi dalam menentukan orang-orang yang menjalankan pemerintahan desa.
* BUMDes sebagai upaya membangun kemandirian ekonomi desa, sekaligus tantangan dalam pengelolaannya.
* Perubahan cara pandang seorang aktivis, dari sekadar melawan menjadi belajar membangun dan bertanggung jawab.
* Membuang ego aktivis sebagai bentuk kedewasaan dalam perjuangan.
* Gotong royong dan partisipasi masyarakat sebagai kekuatan utama dalam membangun desa.
* Pendidikan sebagai jalan membuka wawasan dan membangun kesadaran kritis.
* Peran pemuda melalui HIMAPPEL dalam menumbuhkan semangat berdiskusi dan bergerak.
* Aktivisme akar rumput yang bersentuhan langsung dengan persoalan kehidupan masyarakat.
* Persoalan PRONA dan pentingnya keberanian masyarakat dalam memperjuangkan haknya.
* Perjuangan membuka akses jalan sebagai gambaran persoalan sederhana yang memiliki dampak besar bagi warga.
* Peran BPD dalam mengawasi pemerintahan dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.
* Pandemi dan BLT-DD sebagai ujian terhadap kejujuran, keadilan, dan keberpihakan kepada masyarakat.
* Transparansi dan akuntabilitas dalam penyelenggaraan pemerintahan desa.
* Pentingnya meritokrasi dalam menentukan orang-orang yang menjalankan pemerintahan desa.
* BUMDes sebagai upaya membangun kemandirian ekonomi desa, sekaligus tantangan dalam pengelolaannya.
* Perubahan cara pandang seorang aktivis, dari sekadar melawan menjadi belajar membangun dan bertanggung jawab.
* Membuang ego aktivis sebagai bentuk kedewasaan dalam perjuangan.
* Gotong royong dan partisipasi masyarakat sebagai kekuatan utama dalam membangun desa.
Buku ini cocok untuk
Semua Umur
Daftar Isi
Kata Pengantar ........................................................................ v
Prolog Jalan Tanah ke Sekolah ......................................... viii
Bab 1 Anak Petani yang Belajar Diam-Diam
Mengamati .................................................................................. 1
Bab 2 Pulang dari Kota dengan Kepala Penuh
Pertanyaan ................................................................................ 5
Bab 3 HIMAPPEL dan Api Kecil dari Ruang Diskusi .. 14
Bab 4 PRONA: Ketika Warga Dipaksa Bayar atas
yang Seharusnya Gratis ........................................................23
Bab 5 Jalan yang Ditutup, Suara yang Dibuka ........... 33
Bab 6 Malam-Malam Panjang di Balik Papan Kayu
BPD ............................................................................................ 43
Bab 7 Pandemi, BLT, dan Hati yang Harus Tegas ..... 53
Bab 8 Rapat Tertutup, Keputusan Terbuka ................ 66
Bab 9 Bank Soal, Bank Harapan .................................... 79
Bab 10 BUMDes yang Hampir Tenggelam .................... 93
Epilog Membuang Ego Sang Aktivis................................ 113
Prolog Jalan Tanah ke Sekolah ......................................... viii
Bab 1 Anak Petani yang Belajar Diam-Diam
Mengamati .................................................................................. 1
Bab 2 Pulang dari Kota dengan Kepala Penuh
Pertanyaan ................................................................................ 5
Bab 3 HIMAPPEL dan Api Kecil dari Ruang Diskusi .. 14
Bab 4 PRONA: Ketika Warga Dipaksa Bayar atas
yang Seharusnya Gratis ........................................................23
Bab 5 Jalan yang Ditutup, Suara yang Dibuka ........... 33
Bab 6 Malam-Malam Panjang di Balik Papan Kayu
BPD ............................................................................................ 43
Bab 7 Pandemi, BLT, dan Hati yang Harus Tegas ..... 53
Bab 8 Rapat Tertutup, Keputusan Terbuka ................ 66
Bab 9 Bank Soal, Bank Harapan .................................... 79
Bab 10 BUMDes yang Hampir Tenggelam .................... 93
Epilog Membuang Ego Sang Aktivis................................ 113
REKOMENDASI


